Sabtu, 08 Juli 2017

Ukuran Rumah Adat Minangkabau menurut Arsitektur Tradisional Sumatera Barat

minangkabau saisuak ©joni koto


Arsitektur Minangkabau telah melalui berbagai zaman dalam kurun waktu yang lama. Sedikit banyaknya setiap zaman memberi andil pengaruh bagi penyempurnaan arsitektur Minangkabau untuk mendapatkan bentuk yang mapan.



Rumah Adat Minangkabau, Rumah Gadang


Rumah merupakan hasil karya manusia. Tempat tinggal yang di dalamnya memiliki hubungan sebab akibat dengan peradaban-nya yang merupakan pencerminan dari kreatifitas manusia terhadap ruang, tempat dan waktu.

Untuk kepentingan fisik, manusia melindungi diri dari terik panas matahari, hujan, angin dan gangguan-gangguan lain. Sedang untuk kepentingan jiwa manusia membutuhkan tempat yang bukan asal ada saja, melainkan tempat yang memenuhi kehendak jasmani dan rohani, rumah yang sehat kuat dan indah.

Adapun rumah adat Minangkabau adalah hasil karya nenek moyang masa lampau, dibangun berdasarkan tradisi yang turun temurun.



Bentuk fisik bangunannya, fungsi atau kegunaan dan konstruksi dalam pengelolaan pemakaian bahan bangunan, merupakan potret diri dari nilai - nilai dunia pertukangan guna memenuhi salah satu kebutuhan primer rumah kediaman.

Penggabungan bentuk konstruksi yang kaku dengan rasa dan perasaan keindahan yang dibangun dengan bentuk itu itu juga, dalam tata cara tradisional akan menampilkan tanda-tanda dengan ciri-ciri khas yang menunjukkan watak dan fisik bangunan itu sendiri.

Bentuk yang ada pada rumah adat Minangkabau yang dikenal dengan Rumah Gadang telah umum dikenal di mana-mana, ini adalah ciri khas untuk mengenal daerah Sumatera Barat.



Ukuran Rumah Gadang


Ada ungkapan mengenai ukuran panjang Rumah Gadang:

"Rumah gadang sambilan ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau, sakuek kubin malayang"

"Rumah Gadang sambilan ruang" artinya rumah adat panjangnya 9 ruang, dimana satu ruang adalah jarak antara 2 tiang menurut potongan memanjang.

"Salanja kudo balari"  artinya seekor kuda yang berlari kencang dalam satuan satuan waktu pendek.

"Sapakiak budak maimbau" di mana antara dua ruang yang terjauh masih dapat didengar suara seorang anak yang memanggil.

"Sakuek kubin malayang" adalah di mana dalam ruangan itu seekor burung kubin (sejenis burung yang bisa terbang cepat) masih bisa terbang dengan sekencang-kencangnya.

Ukuran rumah adat ini disesuaikan dengan ukuran tanah. Tanah yang datar atau daerah berbukit atau lembah, bentuk yang dibuat disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut, sehingga terbentuk komposisi yang baik dengan alam lingkungannya.

Ukuran lebar sama dengan 4 ruangan memanjang yang terdiri dari lima buah tiang.



Sedangkan ukuran tinggi menurut "alua jo patuik, raso katinggi diparandah, raso karandah dipatinggi",

Maksudnya menggunakan ukuran sepantasnya, kalau ketinggian diperpendek dan sebaliknya. sesuai dengan "proporsi" yang sedang Baik.

Dalam pengukuran yang dipakai adalah "eto" atau hasta Kadang-kadang untuk mencari bentuk yang baik ukuran eto ini ditambah atau dikurangi satu jengkal.


Ukuran Rumah Gadang Jika dikonversikan


Ukuran untuk satu ruang kira kira 5 -7 eto.
Kalau yang dimaksud dengan satu eto = 0,5 meter.

Maka ukuran rumah adat yaitu 9 ruang, panjang nya adalah 22,5 m. (satu ruang 5 eto)

Untuk ukuran yang terpendek yaitu 5 ruang adalah 12,5m.

Sedangkan yang terpanjang yaitu 17 ruang adalah 59,5 m. (satu ruang 7 eto)

Sedangkan lebar 10 sampai 14 m.

Tinggi lantai 5-7 eto atau 2,5-3,5 m.

Tinggi plafon 14 eto atau 5-7 meter dari tanah.



Miring sudut atap umumnya 45 derajat, sedangkan gonjong berpedoman pada panjang rumah dan tingkat sosial penghuni.


Mudah mudahan bermanfaat untuk menambah wawasan bukan hanya bagi Masyarakat Minang, tetapi juga bagi Masyarakat Umum. Untuk melestarikan Kebudayaan Minangkabau.




Sumber:
Arsitektur Tradisional Sumatera Barat, Ir. Drs. Syafwadi MSc. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1993.


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon