Jumat, 14 Juli 2017

Kondisi Perjalanan Jalur Darat Bukittinggi Jakarta Dari Tahun 1960 an

marantau tahun 70an ©yupardi


Sesuai pepatah minang "Karatau Madang Dihulu, Babuah Babungo Balun. Marantau Bujang Dahulu, Dirumah Baguno Balun".

Kebanyakan masyarakat Minang berjiwa perantau, dari masa kakek / nenek kita terdahulu mereka sudah banyak yang merantau ( meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah didaerah lain ).

Pada masa kakek / nenek kita kebanyakan merantau ke negeri jiran Malaysia, terutama di daerah Klang yang pada masanya disebut Kolang. Oleh karena itu sampai saat ini pun masih banyak warga keturunan minang yang menetap dan bahkan sudah menjadi warga Negara disana. Tidak heran jika randang dan masakan khas minang lainnya juga ada di Malaysia.

Pada masa sekarang Masyarakat Minang merantau tersebar keseluruh penjuru negeri di Nusantara ini baik disekitar pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan bahkan sampai ke Irian. Namun pilihannya mayoritas ke Ibukota Jakarta.

bukittinggi tempo dulu ©google


Tahun 1960an Merantau ke Jakarta Hanya Bisa lewat Jalur Laut


Pada era tahun 1960 an akses untuk merantau ke Jakarta hanya dapat ditempuh melalui jalar laut dengan menggunakan kapal laut, yang pada masanya kapal yang terkenal untuk melayani perantau menuju ke Jakarta yaitu kapal Bele Abeto.

Pada masa ini jika ada sanak keluarga yang akan pergi merantau terutama ke Jakarta maka akan diantar beramai ramai, bahkan sampai ke pelabuhan Teluk Bayur, karena merupakan suatu kebanggan jika sanak keluarganya ada yang merantau ke Jakarta.

Pada saat melepas kebarangkatan kapal, ada sesuatu yang sangat mengesankan di pelauhan Teluk Bayur yaitu dengan diputarkannya salah satu lagu Erni Johan yang berjudul "Teluk Bayur" dengan syair yang sangat menyentuh hati, baik yang akan berangkat maupun yang mangantar. ( Salamaik Tingga Taluak Bayua Permai, Denai Pai Jauah Karantau Urang ).

teluk bayur tempo dulu ©google


Tahun 1970an Merantau ke Jakarta Sudah Bisa Melalui Jalur Darat


Memasuki era tahun 1970 an akses untuk merantau ke Jakarta sudah mulai bisa dilalui dengan jalur darat, bersamaan dengan sudah dimulainya pembangunan beberapa ruas jalan untuk menghubungi antar provinsi.

Walaupun demikian perjalanan masa itu tidaklah begitu mulus seperti sekarang ini, dan armadanya pun belum banyak dan sebagus seperti sekarang ini.

Dikarenakan masih berjalannya pembangunan di beberapa ruas jalan, sehingga perjalanan sangat mengalami kesulitan saat turun hujan, karena jalan yang sebagian besar masih berupa tanah merah akan sulit dilalui karena licin sehingga mobil banyak yang terjebak. Pada masa ini perjalanan cukup lama yaitu 3 sampai 4 hari.



Belum Ada Jembatan Untuk Menyeberangi Sungai


Pada masa 70an ini juga ada hal unik yang tidak kita temui  dalam perjalan sekarang ini, yaitu dengan belum adanya jembatan untuk melintasi sungai.

Maka untuk menyeberanginya kita akan menggunakan rakit ( sejenis perahu yang dirangkai beberapa unit sehingga jadi besar dan dapat mengangkut satu sampai dua bus untuk diseberangkan ). Penyeberangan dengan rakit ini lebih terkenalnya dengan istilah Pelayangan.

Untuk perjalanan dari Bukittingi ke Jakarta kita akan melalui 7x pelayangan / penyeberangan dengan menggunakan rakit ini, disini juga kita biasanya sering bertemu dengan orang orang kubu, suku anak dalam dan suku pedalaman yang ada disekitar daerah pelayangan tersebut.

Pada era ini untuk menyeberang ke Pulau Jawa pelabuhan yang digunakan adalah pelabuhan Panjang bukan pelabuhan Bakauheni seperti sekarang ini, waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang dengan kapal ferry cukup memakan waktu lama.

rakit pelagangan ©yupardi


Tahun 1980an Sudah Ada Jalan Lintas Sumatera


Mulai memasuki tahun 1980 perjalanan darat dari Bukittinggi - Jakarta sudah mulai nyaman, karena dengan adanya jalan Lintas Sumatera serta dengan sudah dibangunnya jembatan penghubung untuk melintasi sungai sungai.

Beberapa PO Bus sudah beroperasi melayani trayek Bukittinggi - Jakarta seperti Bus Sari Express, Gumarang Jaya, ANS, NPM, APD, MERSI, Bungo Setangkai, Jastra, Orion dan jalur yang dilalui hanya satu, yaitu jalur lintas tengah saja.


Tahun 1995 Menuju Jakarta Dapat Melalui Jalur Lintas Timur Atau Jalur Lintas Tengah


Memasuki tahun 1995 seiring dengan pesatnya pembangunan di daerah Sumatera maka jalur perjalanan Bukittinggi - Jakarta punya pilihan lain yaitu dengan menempuh jalur Lintas Timur.

Mulai era ini hingga sekarang para perantau yang dari Jakarta atau yang menuju Jakarta banyak yang pulang kampung dengan menggunakan kendaraan sendiri / mobil pribadi, baik dengan perorangan maupun dengan berombongan / konvoi bersama teman atau pun kerabat, dengan waktu tempuh 35 sampai 40 jam perjalanan normal.

mudik jalan lintas sumatera, surolangun ©yupardi


Waspadai Daerah Rawan Jalur Timur Maupun Jalur Tengah


Namun demikian pada saat pulang kampung dengan menggunakan kendaraan pribadi, perlu mewaspadai ada daerah - daerah yang rawan untuk dilewati pada saat perjalanan malam hari, baik pada jalur lintas tengah maupun lintas timur.

Untuk keselamatan dalam perjalanan biasanya para pengguna kendaraan pribadi memilih istirahat dirumah makan dan area  pom bensin yang menyediakan tempat untuk beristirahat, setelah sholat subuh mereka akan melanjutkan perjalanan kembali.

Menurut para awak bus yang pernah penulis tanyakan, kira kira dalam 10 tahun terakhir lebih banyak yang memilih jalur Lintas Timur, karena sedikit lebih aman serta jalan yang tidak begitu berliku liku, hanya saja untuk kondisi jalan saat ini jalur lintas tengah lebih baik, jika dibandingkan dengan  jalur lintas timur yang kondisi jalannya banyak yang rusak dan jalan bergelombang / tidak rata.



Artikel by Yupardi Tanjung.
Judul "MENAPAKI  PERJALANAN DARAT BUKITTINGI - JAKARTA"

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon